Yue Fei (kedua dari Kiri) bersama dengan Zhang Jun (keempat dari kiri), Han Shizong (kelima dari kiri) dan Liu Guangshi (ketujuh dari kiri) dalam lukisan "The Four Generals of Zhongxing"
“Lebih mudah untuk memindahkan Gunung Tai daripada melawan pasukan Yue Fei” ungkapan sekaligus pujian terhadap kekuatan dan disiplin pasukan yang dipimpin oleh Yue Fei ini dilontarkan oleh Jendral Wushu, Panglima Tertinggi Pasukan Juerchen (Jin) yang menjadi musuh Yue Fei.Yue Fei dilahirkan di kabupaten Tangyin, Provinsi Henan-China, terlahir dari keluarga petani miskin, si kecil Yue sudah menjadi yatim ketika ia masih bayi akibat terjangan banjir yang merendam sebagian besar wilayah selatan sungai Huang Ho. Meskipun mengalami kehidupan yang susah, ibu Yue Fei berusaha keras untuk mengedepankan sikap disiplin, hemat dan bertanggung jawab kepada putranya. Pernah suatu ketika, ibunya memberikan sedikit uang untuk membeli alat tulis dan buku. Ibunya bermaksud untuk mengajari anaknya menulis karena ia tak dapat menyekolahkan Yue Fei dengan layak dan uang itu merupakan hasil keringat yang dapat ditabung melalui pekerjaannya menenun. Ketika menerima uang itu perasaan terharu menggayuti Yue Fei, setelah merenung sebentar akhirnya ia kembali lagi dengan sebaki pasir dan beberapa tangkai ranting yang sudah diruncingkan. Ibunya puas melihat sikap hemat anaknya dan berbekal dengan pasir sebagai “buku” dan tangkai runcing sebagai “pit” ia mengajari anaknya menulis. Sikap ini menarik perhatian pensiunan jendral perang Song waktu itu, Zhou Dong. Dalam waktu singkat Yue Fei yang memang berbakat telah menyerap semua pelajaran ilmu bela diri dan strategi perang yang diajarkan oleh Zhou Dong. Kelak sikap dan bakat ini menjadi dasar yang kuat bagi Yue Fei untuk mengabdi bagi Negara dan Rakyat China.
Sejenak saya tinggalkan Yue Fei dan beralih dengan gambaran umum rakyat China di bawah dinasti Song Akhir. Keadaan rakyat China dibawah pemerintahaan Song waktu itu lebih mencerminkan kesalahan dalam menata administrasi negara, Negara menerapkan pajak tinggi kepada rakyat karena kaisar Song (Huizhong) hidup berfoya-foya dan membebankan pengeluarannya kepada bangsawan, Para bangsawan pemilik tanah enggan untuk membagi hasil panennya lewat pajak yang tinggi sehingga membebankannya kepada rakyat jelata. Hal ini diperperah pula dengan tindakan beberapa oknum menteri dan lapisan aparat pemerintahan yang melakukan korupsi terang-terangan, akibatnya Song menjadi incaran negara-negara tetangganya yang memang sejak dari dulu mencari kesempatan untuk melakukan agresinya. Jin (Suku Juerchen-China Utara) adalah negara yang paling agresif untuk menaklukkan Song, dahulu Jin merupakan negara kecil yang menentang Liao (Suku Qidan-China Utara), saat itu Liao merupakan musuh terbesar dan yang ditakuti oleh Song, pertikaian antara Liao dan Jin menarik minat para kaisar Song untuk bermain api, dengan sengaja mereka memberikan bala bantuan kepada Jin untuk berperang dengan Liao. Apa lacur, Jin mampu mengalahkan Liao dan dalam sekejap tumbuh menjadi negara yang lebih menakutkan daripada Liao. Tahun 1126 hingga 1127 SM, kekalahan yang bertubi tubi dari angkatan perang Song ditambah kacaunya pemerintahan mereka membuat pasukan Jin dapat menerjang masuk kedalam negeri China dan menaklukkan ibukotanya Kaifeng. Huizhong dan anaknya Qinzong ditawan, seluruh harta benda di rampok dan rakyat banyak yang terbunuh. Keadaan dinasti sudah hampir ambruk hingga Zhao Gou (anak ke Sembilan Hui Zhong) mengambil alih tahta dan menjadi kaisar dengan nama gelar Gaozong di Jiang Nan . Dibawah Gao Zong inilah Yue Fei memulai pengabdiannya.
Ketika mendengar bahwa Kaifeng jatuh ke tangan musuh dan dua kaisarnya ditawan, sementara Gao Zong menobatkan dirinya menjadi kaisar penerus untuk melanjutkan perjuangan maka Yue Fei bersiap untuk ikut masuk dalam ketentaraan berjuang melawan musuh. Sebelum bergabung ibunya meminta Yue Fei untuk bersembahyang didepan altar ayahnya dan merajah punggung Yue Fei dengan tulisan “Jing Zhong Bao Guo” (Setia Mengabdi kepada Negara). “Anakku, aku berharap engkau dapat setia kepada negara dan junjunganmu, jika engkau bisa melaksanakannya tak sia-sia jerih payah Zhou Dong dan aku” Nasehat ibunya.
Yue Fei memulai karirnya sebagai pemimpin tentara pelopor dari gabungan tentara-petani yang berhasil dikumpulkan oleh Gaozong dan dipimpin oleh Panglima Zhang Suo. Jumlah tentara pelopor yang dikumpulkan Yue Fei waktu itu hanya sekitar delapan ratus orang, meskipun berjumlah sedikit tentara yang dikumpulkan waktu itu mempunyai semangat, mental dan stamina yang baik untuk menghadapi musuh. Rombongan tentara pelopor ini akhirnya melewati suatu pegunungan bernama gunung Naga Hijau yang cocok sebagai tempat memasang perangkap, hari telah sore ketika Yue Fei selesai memberikan instruksi dan mata-mata telah datang memberikan info bahwa seratus ribu tentara musuh telah tiba dan hendak berkemah, menyadari bahwa jika ia membiarkan musuh yang kelelahan beristirahat maka esok hari mereka akan kesulitan untuk memperdayai mereka, Yue Fei menyuruh pasukan pendampingnya untuk berjaga-jaga di tempat persembunyian sementara ia seorang diri akan menyerbu ke tengah-tengah pasukan musuh untuk menarik perhatian mereka. Benar saja, pasukan Jin yang diserbu oleh Yue Fei seorang diri termakan emosi, panglima Jin, Jendral Nianhan menginstruksikan seratus ribu pasukannya untuk mengejar Yue Fei, sebagai akibatnya mereka masuk dalam perangkap yang telah dibuat dan dari seratus ribu pasukan Jin, hanya tersisa beberapa puluh orang saja, sementara sisanya tewas atau hilang dalam pertempuran.
Kemenangan Yue Fei di gunung Naga Hijau merupakan titik balik dalam karirnya sebagai panglima militer. Yue Fei sukses untuk mempertahankan dan bahkan merebut kembali beberapa daerah penting di utara dari tangan musuh. Gerakan ini membuat penduduk di bagian utara bersatu padu dengan pasukan Yue Fei untuk melawan bangsa penjajah Jin. Dalam satu gerakan militer dari timur ke arah barat sepanjang sungai Yang Tze, pasukan Yue Fei dengan gagah berani dapat merebut 6 kota utama hanya dalam waktu tiga bulan. Kemenangan ini secara strategis menempatkan pasukan Song dalam kedudukan yang lebih menguntungkan untuk merebut kembali wilayah di sebelah selatan sungai Huang Ho yang masih dalam cengkeraman bangsa Jin. Kemenangan demi kemenangan ini kelak menjadikan ia sebagai salah satu tokoh yang melawan bangsa Jin secara politik maupun militer terus menerus selama tujuh belas tahun pengabdiannya.
Sepak terjang heroik panglimanya untuk melakukan aksi balas dendam dengan Jin membuat sang kaisar was-was. Sejak awal naik tahta Gaozong tidak pernah berpikir untuk melawan ataupun membalas dendam kepada Jin. Disatu sisi, kepiawaian Yue Fei dalam militer telah merebut simpati rakyat sementara dilain sisi wibawa pemerintah dibawah kekuasaan kaisar terasa hambar karena mereka masih mewarisi status quo kebobrokan dan korupsi dari dinasti lama, klik ini membuat Gao Zong cemburu kepada Yue Fei namun tak dapat berbuat apa-apa selain berpikir bagaimana cara untuk menyingkirkan panglimanya. Alasan lain mengapa Gao Zong tidak ingin mengalahkan bangsa Jin adalah karena mereka masih menahan ayah dan kakaknya. Kedua kaisar itu akan menjadi ancaman tersendiri bagi Gao Zong apabila mereka berhasil menaklukkan bangsa Jin. Kegalauan kaisar menjadi kesempatan bagi Qin Gui. Qin Gui awalnya adalah seorang Zhang Yuan (lulusan nomor satu) pada masa kaisar Qin Zong yang ikut ditawan oleh Jin ketika Kaifeng Jatuh. Baliknya Qin Gui ke pemerintahan Gao Zong memang sengaja diatur oleh bangsa Jin setelah melihat sepak terjang Yue Fei yang membahayakan. Qin Gui yang memang bukan anti Jin terasa seperti angin segar bagi Gao Zong untuk menghambat ambisi Yue Fei menaklukkan bangsa Jin, dalam sekejab karir Qin Gui naik pesat menjadi Perdana Menteri menggantikan Li Gang yang bijaksana dan anti Jin.
Setelah menjadi perdana menteri, langkah Qin Gui berikutnya adalah memohon perdamaian dengan Jin dan untuk menunjukkan itikad baiknya mereka memberhentikan Yue Fei dari militer. Setahun setelah perjanjian damai itu, Jin melanggarnya dan menyerang Song, sekali lagi kekuatan militer mereka ditumpas oleh Yue Fei dan ketika pasukannya telah bersiap di utara Sungai Huang Ho untuk menyelesaikan dendam mereka dengan Jin, Gao Zong dan Qin Gui sekali lagi mengirimkan delegasinya kepada Jin untuk merundingkan perdamaian. Bangsa Jin menekan Song dengan menginginkan kematian Yue Fei dan Qin Gui menyetujuinya. Akhirnya sang Pahlawan yang tengah bersiap bersama pasukannya dipanggil mundur secara tiba-tiba dengan firman kaisar. Firman kaisar yang datang bertubi-tubi memaksa Yue Fei menghentikan serangannya dan kembali ke ibukota. Sesampainya di ibukota ia langsung dipenjara dan difitnah untuk tak lama kemudian dibunuh.
Kematiannya mengakibatkan kemarahan rakyat, namun akibat kekuasaan ada ditangan Qin Gui dkk sementara kaisar pun mendukung aksi mereka akhirnya dendam itu tertuang dalam makanan cha kwee/cakui, nama makanan ini yang berarti goreng si “kui” merujuk kepada Qin Gui yang dalam kemarahan mereka serasa ingin digoreng hidup-hidup. Tak puas dengan itu, rakyat pun memugar kembali makam Yue Fei di Hang Chow dan menjadikannya biara setelah Gao Zong mangkat. Di biara tersebut dibuat beberapa patung besi yang menyembah ke makam Yue Fei, alkisah patung-patung tersebut adalah patung dari Qin Gui dan istrinya serta beberapa orang yang bersalah karena membunuh Yue Fei, dahulu keempat patung besi tersebut diludahi dan dikencingi oleh orang-orang yang mengunjungi makam Yue Fei.

