Minggu, 05 Oktober 2008

Yue Fei “Setia Mengabdi kepada Negara”






Yue Fei (kedua dari Kiri) bersama dengan Zhang Jun (keempat dari kiri), Han Shizong (kelima dari kiri) dan Liu Guangshi (ketujuh dari kiri) dalam lukisan "The Four Generals of Zhongxing"
“Lebih mudah untuk memindahkan Gunung Tai daripada melawan pasukan Yue Fei” ungkapan sekaligus pujian terhadap kekuatan dan disiplin pasukan yang dipimpin oleh Yue Fei ini dilontarkan oleh Jendral Wushu, Panglima Tertinggi Pasukan Juerchen (Jin) yang menjadi musuh Yue Fei.

Yue Fei dilahirkan di kabupaten Tangyin, Provinsi Henan-China, terlahir dari keluarga petani miskin, si kecil Yue sudah menjadi yatim ketika ia masih bayi akibat terjangan banjir yang merendam sebagian besar wilayah selatan sungai Huang Ho. Meskipun mengalami kehidupan yang susah, ibu Yue Fei berusaha keras untuk mengedepankan sikap disiplin, hemat dan bertanggung jawab kepada putranya. Pernah suatu ketika, ibunya memberikan sedikit uang untuk membeli alat tulis dan buku. Ibunya bermaksud untuk mengajari anaknya menulis karena ia tak dapat menyekolahkan Yue Fei dengan layak dan uang itu merupakan hasil keringat yang dapat ditabung melalui pekerjaannya menenun. Ketika menerima uang itu perasaan terharu menggayuti Yue Fei, setelah merenung sebentar akhirnya ia kembali lagi dengan sebaki pasir dan beberapa tangkai ranting yang sudah diruncingkan. Ibunya puas melihat sikap hemat anaknya dan berbekal dengan pasir sebagai “buku” dan tangkai runcing sebagai “pit” ia mengajari anaknya menulis. Sikap ini menarik perhatian pensiunan jendral perang Song waktu itu, Zhou Dong. Dalam waktu singkat Yue Fei yang memang berbakat telah menyerap semua pelajaran ilmu bela diri dan strategi perang yang diajarkan oleh Zhou Dong. Kelak sikap dan bakat ini menjadi dasar yang kuat bagi Yue Fei untuk mengabdi bagi Negara dan Rakyat China.

Sejenak saya tinggalkan Yue Fei dan beralih dengan gambaran umum rakyat China di bawah dinasti Song Akhir. Keadaan rakyat China dibawah pemerintahaan Song waktu itu lebih mencerminkan kesalahan dalam menata administrasi negara, Negara menerapkan pajak tinggi kepada rakyat karena kaisar Song (Huizhong) hidup berfoya-foya dan membebankan pengeluarannya kepada bangsawan, Para bangsawan pemilik tanah enggan untuk membagi hasil panennya lewat pajak yang tinggi sehingga membebankannya kepada rakyat jelata. Hal ini diperperah pula dengan tindakan beberapa oknum menteri dan lapisan aparat pemerintahan yang melakukan korupsi terang-terangan, akibatnya Song menjadi incaran negara-negara tetangganya yang memang sejak dari dulu mencari kesempatan untuk melakukan agresinya. Jin (Suku Juerchen-China Utara) adalah negara yang paling agresif untuk menaklukkan Song, dahulu Jin merupakan negara kecil yang menentang Liao (Suku Qidan-China Utara), saat itu Liao merupakan musuh terbesar dan yang ditakuti oleh Song, pertikaian antara Liao dan Jin menarik minat para kaisar Song untuk bermain api, dengan sengaja mereka memberikan bala bantuan kepada Jin untuk berperang dengan Liao. Apa lacur, Jin mampu mengalahkan Liao dan dalam sekejap tumbuh menjadi negara yang lebih menakutkan daripada Liao. Tahun 1126 hingga 1127 SM, kekalahan yang bertubi tubi dari angkatan perang Song ditambah kacaunya pemerintahan mereka membuat pasukan Jin dapat menerjang masuk kedalam negeri China dan menaklukkan ibukotanya Kaifeng. Huizhong dan anaknya Qinzong ditawan, seluruh harta benda di rampok dan rakyat banyak yang terbunuh. Keadaan dinasti sudah hampir ambruk hingga Zhao Gou (anak ke Sembilan Hui Zhong) mengambil alih tahta dan menjadi kaisar dengan nama gelar Gaozong di Jiang Nan . Dibawah Gao Zong inilah Yue Fei memulai pengabdiannya.

Ketika mendengar bahwa Kaifeng jatuh ke tangan musuh dan dua kaisarnya ditawan, sementara Gao Zong menobatkan dirinya menjadi kaisar penerus untuk melanjutkan perjuangan maka Yue Fei bersiap untuk ikut masuk dalam ketentaraan berjuang melawan musuh. Sebelum bergabung ibunya meminta Yue Fei untuk bersembahyang didepan altar ayahnya dan merajah punggung Yue Fei dengan tulisan “Jing Zhong Bao Guo” (Setia Mengabdi kepada Negara). “Anakku, aku berharap engkau dapat setia kepada negara dan junjunganmu, jika engkau bisa melaksanakannya tak sia-sia jerih payah Zhou Dong dan aku” Nasehat ibunya.

Yue Fei memulai karirnya sebagai pemimpin tentara pelopor dari gabungan tentara-petani yang berhasil dikumpulkan oleh Gaozong dan dipimpin oleh Panglima Zhang Suo. Jumlah tentara pelopor yang dikumpulkan Yue Fei waktu itu hanya sekitar delapan ratus orang, meskipun berjumlah sedikit tentara yang dikumpulkan waktu itu mempunyai semangat, mental dan stamina yang baik untuk menghadapi musuh. Rombongan tentara pelopor ini akhirnya melewati suatu pegunungan bernama gunung Naga Hijau yang cocok sebagai tempat memasang perangkap, hari telah sore ketika Yue Fei selesai memberikan instruksi dan mata-mata telah datang memberikan info bahwa seratus ribu tentara musuh telah tiba dan hendak berkemah, menyadari bahwa jika ia membiarkan musuh yang kelelahan beristirahat maka esok hari mereka akan kesulitan untuk memperdayai mereka, Yue Fei menyuruh pasukan pendampingnya untuk berjaga-jaga di tempat persembunyian sementara ia seorang diri akan menyerbu ke tengah-tengah pasukan musuh untuk menarik perhatian mereka. Benar saja, pasukan Jin yang diserbu oleh Yue Fei seorang diri termakan emosi, panglima Jin, Jendral Nianhan menginstruksikan seratus ribu pasukannya untuk mengejar Yue Fei, sebagai akibatnya mereka masuk dalam perangkap yang telah dibuat dan dari seratus ribu pasukan Jin, hanya tersisa beberapa puluh orang saja, sementara sisanya tewas atau hilang dalam pertempuran.

Kemenangan Yue Fei di gunung Naga Hijau merupakan titik balik dalam karirnya sebagai panglima militer. Yue Fei sukses untuk mempertahankan dan bahkan merebut kembali beberapa daerah penting di utara dari tangan musuh. Gerakan ini membuat penduduk di bagian utara bersatu padu dengan pasukan Yue Fei untuk melawan bangsa penjajah Jin. Dalam satu gerakan militer dari timur ke arah barat sepanjang sungai Yang Tze, pasukan Yue Fei dengan gagah berani dapat merebut 6 kota utama hanya dalam waktu tiga bulan. Kemenangan ini secara strategis menempatkan pasukan Song dalam kedudukan yang lebih menguntungkan untuk merebut kembali wilayah di sebelah selatan sungai Huang Ho yang masih dalam cengkeraman bangsa Jin. Kemenangan demi kemenangan ini kelak menjadikan ia sebagai salah satu tokoh yang melawan bangsa Jin secara politik maupun militer terus menerus selama tujuh belas tahun pengabdiannya.

Sepak terjang heroik panglimanya untuk melakukan aksi balas dendam dengan Jin membuat sang kaisar was-was. Sejak awal naik tahta Gaozong tidak pernah berpikir untuk melawan ataupun membalas dendam kepada Jin. Disatu sisi, kepiawaian Yue Fei dalam militer telah merebut simpati rakyat sementara dilain sisi wibawa pemerintah dibawah kekuasaan kaisar terasa hambar karena mereka masih mewarisi status quo kebobrokan dan korupsi dari dinasti lama, klik ini membuat Gao Zong cemburu kepada Yue Fei namun tak dapat berbuat apa-apa selain berpikir bagaimana cara untuk menyingkirkan panglimanya. Alasan lain mengapa Gao Zong tidak ingin mengalahkan bangsa Jin adalah karena mereka masih menahan ayah dan kakaknya. Kedua kaisar itu akan menjadi ancaman tersendiri bagi Gao Zong apabila mereka berhasil menaklukkan bangsa Jin. Kegalauan kaisar menjadi kesempatan bagi Qin Gui. Qin Gui awalnya adalah seorang Zhang Yuan (lulusan nomor satu) pada masa kaisar Qin Zong yang ikut ditawan oleh Jin ketika Kaifeng Jatuh. Baliknya Qin Gui ke pemerintahan Gao Zong memang sengaja diatur oleh bangsa Jin setelah melihat sepak terjang Yue Fei yang membahayakan. Qin Gui yang memang bukan anti Jin terasa seperti angin segar bagi Gao Zong untuk menghambat ambisi Yue Fei menaklukkan bangsa Jin, dalam sekejab karir Qin Gui naik pesat menjadi Perdana Menteri menggantikan Li Gang yang bijaksana dan anti Jin.

Setelah menjadi perdana menteri, langkah Qin Gui berikutnya adalah memohon perdamaian dengan Jin dan untuk menunjukkan itikad baiknya mereka memberhentikan Yue Fei dari militer. Setahun setelah perjanjian damai itu, Jin melanggarnya dan menyerang Song, sekali lagi kekuatan militer mereka ditumpas oleh Yue Fei dan ketika pasukannya telah bersiap di utara Sungai Huang Ho untuk menyelesaikan dendam mereka dengan Jin, Gao Zong dan Qin Gui sekali lagi mengirimkan delegasinya kepada Jin untuk merundingkan perdamaian. Bangsa Jin menekan Song dengan menginginkan kematian Yue Fei dan Qin Gui menyetujuinya. Akhirnya sang Pahlawan yang tengah bersiap bersama pasukannya dipanggil mundur secara tiba-tiba dengan firman kaisar. Firman kaisar yang datang bertubi-tubi memaksa Yue Fei menghentikan serangannya dan kembali ke ibukota. Sesampainya di ibukota ia langsung dipenjara dan difitnah untuk tak lama kemudian dibunuh.

Kematiannya mengakibatkan kemarahan rakyat, namun akibat kekuasaan ada ditangan Qin Gui dkk sementara kaisar pun mendukung aksi mereka akhirnya dendam itu tertuang dalam makanan cha kwee/cakui, nama makanan ini yang berarti goreng si “kui” merujuk kepada Qin Gui yang dalam kemarahan mereka serasa ingin digoreng hidup-hidup. Tak puas dengan itu, rakyat pun memugar kembali makam Yue Fei di Hang Chow dan menjadikannya biara setelah Gao Zong mangkat. Di biara tersebut dibuat beberapa patung besi yang menyembah ke makam Yue Fei, alkisah patung-patung tersebut adalah patung dari Qin Gui dan istrinya serta beberapa orang yang bersalah karena membunuh Yue Fei, dahulu keempat patung besi tersebut diludahi dan dikencingi oleh orang-orang yang mengunjungi makam Yue Fei.

Kamis, 07 Februari 2008

Han Xin “Jendral Pendiri Dinasti Han”


Liu Pang pernah berkata, “Selama Han Xin dan Zhang Liang ada disampingku, menguasai Cina bukanlah hal yg mustahil.” Takdir menyanggupi kehendak Liu Pang dan mencatatnya sebagai Kaisar Han Pertama yang dinastinya akan menguasai Cina selama beratus-ratus tahun.

Han Xin dilahirkan dari keluarga miskin yg tidak ternama, kehidupan yang melarat dan yatim piatu karena ditinggal ayah ibunya sejak kecil tidak membuat Han Xin minder tetapi kebalikannya dia berupaya keras membuat dirinya “gagah” dan terkesan sombong demi mempertahankan harga dirinya. Ketika usianya beranjak dewasa, Pemuda Han Xin yang telah menguasai ilmu silat tinggi selalu menenteng pedang kemanapun ia pergi, pada waktu itu seseorang yg menenteng pedang kemanapun ia pergi mempunyai resiko untuk terbunuh karena menyandang predikat sebagai pendekar dan setiap saat akan ditantang untuk membuktikan kemampuannya. Kenekatannya akhirnya menemui batu sandungan ketika suatu hari sekelompok preman yang muak melihat aksinya berencana untuk membunuhnya. Dikepung oleh sekelompok preman tidak membuat nyali Han Xin ciut, dia memang siap mati untuk membela nama dan harga dirinya, namun ketika kepala preman berkata padanya bahwa ia masih diijinkan hidup jika mau merangkak melewati selangkangannya, tanpa berpikir panjang ia melakukannya. Pada waktu itu, mungkin hingga saat ini, merangkak melewati selangkangan seseorang dianggap perbuatan yg hina. Namun bagi Han Xin, momen itu adalah suatu persimpangan yang akan merubah keseluruhan hidupnya, karena bagi dia perbuatan tersebut bukanlah sesuatu yang hina tetapi upaya untuk mempertahankan haknya untuk hidup di dunia yg kejam, meskipun untuk itu ia harus menerima ejekan sebagai pengecut dan ditinggal oleh teman-temannya.

Pada waktu Qin Shi Huang, Kaisar pertama yang menguasai Cina dari Dinasti Qin, bertakhta kehidupan di Cina menjadi sangat susah, kebijakan-kebijakannya untuk membangun Tembok Cina, ditambah perang tanpa henti, politik luar negeri yg buruk dengan negara tetangga, plus kelaparan dan banjir membuat kehidupan rakyat semakin sulit, tidak terkecuali Han Xin, namun harga dirinya tetap tinggi, ia tidak rela mengemis hanya untuk mendapatkan makanan. Kehidupan yang sulit membuat ia menjadi gelandangan dan hidup di pinggir sungai. Suatu hari ketika sedang berada di pinggir sungai, seorang perempuan yang kebetulan mencuci pakaiannya di sana merasa terusik dengan tatapan Han Xin ke arah bekal makanan yg sedianya akan diberikan kepada anak-anaknya. Tahu bahwa Han Xin kelaparan ia tidak tega untuk tidak membantunya, namun sembari ia membagi sedikit makanannya kepada Han Xin ia berujar “Seorang Laki-laki seperti kau haruslah berusaha sekuat tenaga menggali potensi diri untuk masa depanmu, bukan hanya duduk-duduk di tepi sungai menanti belas kasihan dari wanita seperti diriku”. Kata-kata itu sangat menusuk hati Han Xin dan ia pun sadar bahwa selama ini dirinya takluk dengan situasi dan kondisi tanpa pernah mau menggali lebih keras potensi dirinya yang ada.

Ketika pemberontakan melawan kekaisaran Qin bermunculan dimana-mana, Han Xin ikut berpartisipasi. Berada dibawah panji Kerajaan Chu, Han Xin berhasil memenangkan beberapa pertempuran kecil namun pemimpin Chu, Jendral Xiang Yu, kurang menghargai keberhasilannya dikarenakan watak dan latar belakang Xiang Yu yang egois dan tidak mampu melihat apalagi memakai potensi anak buahnya. Han Xin sadar, pemimpinnya tidak mempunyai talenta untuk menjadi pemimpin yang bijak dan ia pun berketetapan untuk meninggalkan jendral Xiang Yu. Niat itu berubah menjadi keyakinan ketika ia mendengar bahwa Liu Pang yang menjadi saingan Xiang Yu sangat menghargai potensi orang2 yang berbakat dan pandai. Pada suatu malam, Han Xin lari dari perkemahannya menjadi desertir dan melaju dengan kudanya menuju perkemahan Liu Pang yang terletak jauh dari Perkemahan Jendral Xiang Yu.

Atas rekomendasi dari Xiao He, salah satu Penasehat Liu Pang yang menyadari potensi besarnya. Han Xin diterima bekerja sebagai perwira menengah. Menyesal bahwa ia pun tidak digubris oleh atasannya, membulatkan tekadnya untuk lari dari Liu Pang. Niat itu dilaksanakan ketika untuk terakhir kalinya rekomendasinya untuk menghancurkan tentara Qin dalam sekali pukul ditolak oleh atasannya dengan alasan perbedaan jumlah tentara yang sangat signifikan, tanpa terlebih dahulu mengkonsultasikannya dengan Liu Pang, sementara keadaan mereka sedang dijepit oleh pasukan Qin yang berkekuatan besar. Malam itu ketika bulan purnama, Han Xin melarikan diri dari perkemahan Liu Pang, Xiao He yang mendengar suara derap kuda merasa heran dan berlari keluar dari kemahnya untuk mengetahui situasi yang terjadi, ketika mendengar bahwa Han Xin melarikan diri, tanpa sempat mengganti pakaian tidurnya Xiao He langsung mengejar Han Xin dengan kudanya sekuat tenaga. Sampai di bantaran sungai kuning Xiao He berhasil menemukan Han Xin yang sedang mencari perahu untuk menyeberangkannya. “Han Xin…Han Xin…kemana lagi kau akan pergi?” seru Xiao He. Mendengar suara temannya Xiao He, Han Xin menghentikan upayanya untuk mencari perahu. “Aku akan berkelana mencari dunia….” kata Han Xin pelan. “Dunia telah kau temukan sekarang taklukkanlah dulu egomu, Liu Pang hanya butuh waktu untuk mempercayaimu dan kau haru menyediakan waktu itu.” Kata Xiao He. “ Waktu tidak mampu menunggu tuan kita, Xiao He”; “Kalau begitu tugaskulah untuk mengingatkannya..” kata Xiao He datar. Setelah berhasil membujuk Han Xin akhirnya mereka berdua memutar kuda mereka masing2 menuju perkemahan Liu Pang.

Sementara itu keributan terjadi di perkemahan Liu Pang, Liu Pang yang baru terjaga dari tidurnya terkejut mendengar pelarian Xiao He, rupanya informasi yg diterima salah, karena menurut informasi tersebut Xiao He-lah yang melarikan diri. Ketika Xiao He sampai di perkemahan masih dengan napas yang tidak teratur, Liu Pang langsung mencercanya “Xiao He,jadi kau akan meninggalkan diriku pada saat yang genting ini?” “Tuanku” Jelas Xiao He “ Hamba bukan melarikan diri, namun hamba mengejar seseorang yg hamba yakini dapat mampu menyelamatkan kita dari situasi sekarang ini sekaligus mewujudkan impian tuanku untuk menjadi penguasa negeri ini.”; “Siapakah orang itu?” “Han Xin Tuanku” Liu Pang menatap Xiao He dengan pandangan ragu “Siapa Han Xin ini?” “Dia adalah perwira Tuanku, karena dia meyakini hanya dengan pukulan langsung ke jantung pertahanan pasukan Qin, nyawa kita dapat terselamatkan. Dia merekomendasikan hal ini kepada atasannya, karena ditolak dia melarikan diri untuk menghindari kematian yang semestinya tidak perlu” Liu Pang yang memang bijaksana tidak menyia-nyiakan waktu yang ada dan langsung memerintahkan Han Xin untuk menghadap dan beraudiensi dengan dirinya. Ketika mendengar pandangan2 Han Xin tentang rendahnya kualitas tentara musuh yang memiliki kuantitas lebih tinggi ditambah diskusi panjang lebar dengan para penasehatnya, Liu Pang setuju untuk menjalankan strategi Han Xin untuk melancarkan serangan sekali pukul ke jantung pertahanan Kerajaan Qin.

Berkat keberhasilannya ini, ketika Dinasti Qin jatuh, Liu Pang mengangkat Han Xin sebagai Panglima Tertinggi Kerajaan Han untuk melawan negeri Chu dan berhak untuk melakukan tindakan yang dianggap perlu tanpa harus melapor terlebih dulu kepada Raja Han alias Liu Pang. Kepercayaan yang diberikan kepada Han Xin tidak disia-siakan, segera dia menyiapkan tentara untuk melawan pasukan Kerajaan Chu.

Satu ketika ketika dalam perjalanan mengejar pasukan Xiang Yu, Han Xin melewati kembali desa tempat ia dilahirkan, sambil mengenang peristiwa yang berlalu dalam hidupnya, ia teringat kepala preman yang dulu pernah menyuruhnya berjalan melewati selangkangannya, ia pun mengirim sekelompok pasukan untuk mencari kepala preman tersebut. Tahu bahwa jiwanya terancam, kepala preman itu menyerahkan dirinya ke pasukan Han Xin yang langsung membawanya menghadap. Diluar dugaan, Han Xin melepaskan tawanan yang pasrah itu dan mengangkatnya menjadi pengawalnya. Kelak di pertempuran selanjutnya, kepala preman yang merasa berhutang budi terhadap Han Xin bertempur gagah berani hingga menemui ajalnya.

Xiang Yu yang terus menerus dikejar dan dijepit oleh dua pasukan gabungan Liu Pang dan Han Xin, tidak lagi mampu mengimbanginya meskipun kekuatan awalnya sangatlah besar, hal ini lebih dikarenakan ketidak mampuan Xiang Yu untuk membuat bawahannya setia dan lawan menyeganinya. Sementara Liu Pang dengan kharismanya yang tinggi mampu merebut hati lawannya dan membangun kesetiaan diantara bawahannya. Dalam satu pertempuran yang menentukan Xiang Yu berhasil dikalahkan oleh Liu Pang dan lari kembali ke negaranya, malang jalan pulangnya telah dipotong oleh Han Xin yang menunggu dengan pasukan yang besar. Tahu bahwa dirinya menghadapi bekas majikannya, Han Xin Memutuskan untuk mengepung tanpa menghabisi kelompok pasukan yang kalah. Ketika Xiang Yu mengetahui hal ini dia mencabut pedangnya dan membunuh dirinya sendiri. Sesaat sebelum menggorok lehernya, Xiang Yu sempat mengucapkan penyesalannya bahwa akhir hidupnya harus ditentukan oleh Han Xin, bekas bawahannya.

Berakhirnya hidup Xiang Yu, berarti berakhir pula Kerajaan Chu yang menjadi satu-satunya saingan kerajaan Han milik Liu Pang. Setelah kerajaan Chu musnah, kerajaan-kerajaan kecil yang lain menyatakan takluk kepada Han dan Cina dapat disatukan dengan Kaisar pertamanya Han Di Liu Pang. Han Xin sendiri dianugerahi gelar Raja Muda oleh Liu Pang dan dalam satu intrik politik yang kejam Han Xin akhirnya dibunuh dan keluarganya dihabisi.


Jakarta, 30 September 2004

We Just Born

Jakata, 08 February 2008



The world would remeber this day as the first day on Chinese New Year. This day are also important for us, after waited for so long, we decided to create this blog with one aim: sharing stories and histories for all the readers who want to read. Wish you enjoy and....never ever forgot the past.